National
Indonesia’s first direct Presidential election is slated for
July 5, with voter concerns focusing more on issues of corruption and public
governance in this country’s relatively new democracy. (International
Foundation for Election Systems)
Intense international criticism was levied against Indonesia
following the expulsion in May of Sidney Jones, the Indonesia country director
for the International Crisis Group (ICG). Twenty other international and local
non-governmental organizations were placed on a “watch list” as potential
threats to state security. Human Rights Watch
alleged that the refusal to renew Jones’ work permit was directly linked to her
reports on human rights abuses, and ICG stated
that the expulsion was “outrageous and indefensible, utterly at odds with
Indonesia's claim to be an open and democratic society”.
A UN-backed tribunal issued an arrest warrant in May for
General Wiranto, the Golkar party candidate for president, for war crimes
allegedly committed in East Timor in 1999. (BBC)
The annual
Amnesty International report on human rights in Indonesia, released in May,
reported an increase in the use of force against separatist movements in Aceh
and Papua. The report detailed increases in numerous abuses during the
imposition of martial law in Aceh, including extrajudicial executions,
“disappearances”, arbitrary detention, torture, sexual violence, and forced
population displacement. The country report also included information on the
general human rights situation in Indonesia, citing 30 prisoners of conscience
and political prisoners, improper trials, and torture of detainees.
The Annual
Report of the United States Commission on International Religious Freedom,
released in May, expresses concern regarding the freedom of religion in
Indonesia. The Commission cited the continuing sectarian violence and the
government’s failure to punish those involved in abuses as contributing factors
to Indonesia’s place on the ‘watch list’.
The International Monetary Fund’s monitoring body concluded
in an independent evaluation released June 22 that the IMF failed to understand
the nature of Indonesia’s problems in the economic crisis of the later 1990s
and made a series of serious errors in its policy recommendations. (Reuters)
For more information, please see:
Aceh
In May, Aceh’s status was downgraded from martial law to a
state of civil emergency, ostensibly handing over more control to civilian
leaders; however, concerns remain regarding corruption, violence on both sides,
and a persisting lack of basic services (BBC). The civil
state of emergency administrator has declared that the “shoot on sight” orders
are still in place for those who disturb security, as is the ban on foreign
citizens everywhere but in Sabang. The Red Cross announced on May 18 that it
transferred 151 persons released by GAM, including TV cameraman Fery Santoro (ICRC).
In June, Swedish authorities arrested three exiled leaders
of the Free Aceh Movement (GAM) suspected of grave breaches of international
law, but who were later released for lack of evidence (Laksamana).
The governor of Aceh, Abdullah Puteh, was questioned for the investigation of a
multi-million dollar graft case under suspicion for misuse of public funds; Laksamana
reported that 42 cases of corruption involving public officials have been
reported in Aceh.
For more information, please see:
Maluku
Maluku experienced a resurgence of sectarian violence with
sniper fire and bombs, raising fears of escalation to the level of
Christian-Muslim violence that existed prior to a 2002 peace agreement. (BBC) The chief
of police for the province was removed from his position after the violence in
Ambon; suspicions have also been raised as to whether the Ambon violence is
being provoked (International
Crisis Group).
For more information, please see:
Sulawesi
Allegations of police brutality at
a student protest on May 1 at the
Indonesian Muslim University (UMI) in Makassar, which resulted in 65 injuries,
led to the dismissal of the Head of the Greater Makassar Area Police. (Tempo)
On May 26, 2004, Fery Silalahi, a prosecutor who helped try terrorism cases,
was shot dead by gunmen in Palu, capital of Central Sulawesi province. Like
other prosecutors in the province, Silalahi handled a variety of cases
including corruption and terrorism, including a recent case against suspected
Jemaah Islamiyah (JI) members Muhammad Fauzan, Nizam, Firmansyah, Fajri and
Aang Hasanuddin (Laksamana).
Papua
On June 24, 2004, a US grand jury indicted a Free Papua
Movement member with two counts of murder, eight counts of attempted murder and
other related offenses in an ambush near the Freeport mine in Timika, Papua in
2002. (BBC) The United States banned military ties
between the United States and Indonesia in 1999, following Indonesian military
abuses in East Timor. Suspicions regarding possible Indonesian military
involvement and a perception of inactivity on the part of the Indonesian
government to pursue the culprits were generally acknowledged as a major
obstacle to lifting the ban.
The State
Administrative Court ruled on June 15 against a law appointing Abraham
Octavianus Atururi as West Irian Jaya governor. Several prominent Papuan figures immediately called on the
government to comply with the court's ruling that Presidential Decree No.
213/2003 appointing the governor was contrary to the 2001 law on special
autonomy. They warned Papuan people would lose trust in the central government
if the court ruling went unheeded (Laksamana).
On June 9, 2004, police
announced they would open an investigation into the tribal violence in Mimika
district in Timika town, which claimed the lives of four people. (Laksamana).
The Robert F. Kennedy Memorial Center for Human Rights’
monthly Papua Report details continuing human rights issues in the province.
(The April 2004 report is available here)
For more information, please see:
INDONESIAN
VERSION
Nasional
Pemilihan presiden secara langsung untuk pertama kalinya
akan diselenggarakan pada 5 Juli, dengan kebanyakan pemilih menganggap masalah
korupsi dan tata kepemerintahan sebagai isu penting bagi negaranya yang masih
baru dalam berdemokrasi itu. (International
Foundation for Election Systems)
Kritik dari segala penjuru dunia mengarah ke Indonesia
menyusul diusirnya Sidney Jones, direktur International Crisis Group (ICG) di
Indonesia, Mei lalu. Duapuluh
organisasi Organisasi Nonpemerintah (Ornop) dari dalam dan luar negeri juga
masuk ke daftar pengawasan karena dianggap mengancam keamanan nasional. Human Rights
Watch menuduh penolakan perpanjangan visa kerja Sidney Jones berkaitan
langsung dengan laporan yang bersangkutan tentang berbagai pelanggaran hak
asasi manusia (HAM), dan pihak ICG di
sisi yang lain menyatakan pengusiran stafnya itu “keterlaluan dan tak bisa
dibenarkan, juga amat bertentangan dengan klaim Indonesia sebagai Negara yang
terbuka dan demokratis”.
Mei lalu, sebuah pengadilan khusus PBB di Timor Leste telah
menerbitkan perintah penangkapan atas Jenderal {Purn.) Wiranto, calon presiden
dari Partai Golkar, dengan tuduhan kejahatan perang di wilayah Timor Timur pada
1999. (BBC)
Laporan Tahunan Amnesty
International tentang HAM di Indonesia yang diterbitkan Mei lalu
menyebutkan peningkatan penggunaan kekerasan terhadap gerakan separatisme di
Aceh dan Papua. Laporan itu membeberkan
meningkatnya beberapa pelanggaran selama keadaan Darurat Militer di Aceh,
khususnya eksekusi tanpa proses peradilan, “penghilangan”, penahanan sepihak,
penyiksaan, kekerasan seksual, dan pemindahan penduduk secara paksa. Laporan tahunan tersebut juga memuat
informasi tentang situasi umum HAM di Indonesia, mengutip pernyataan dari 30
pembangkang dan tahanan politik, serta proses peradilan yang tak selayaknya dan
penyiksaan terhadap para tahanan.
Laporan Tahunan The
United States Commission on International Religious Freedom yang terbit Mei
lalu menunjukkan keprihatinan atas kebebasan beragama di Indonesia. Komisi ini menyebutkan berlanjutnya
kekerasan sektarian dan kegagalan pemerintah dalam menghukum mereka yang
terlibat sebagai faktor-faktor penting yang menyebabkan Indonesia dimasukkan ke
dalam “daftar pengawasan”.
Lembaga pengawas International Monetary Fund (IMF) dalam
sebuah laporan evaluasi independennya yang terbit 22 Juni lalu menyimpulkan IMF
gagal memahami situasi yang dihadapi Indonesia selama krisis ekonomi di akhir
1990-an dan membuat kesalahan serius dalam rekomendasi kebijaksanaannya. (Reuters)
Artikel menarik mengenai Nasional:
Tergelincir
dalam Permainan Statistik (Amir, Sulfikar)
Presiden,
Konflik, dan Pemilih Irasional (Taslim, Reny Sri Ayu)
Ah,
Nikmatnya Demokrasi! (Shambazy, Budiarto)
Potret
''Hitam'' Pemimpin Kita (Teweng, Timo)
DPR
Bukan Ajang Bisnis (Siregar, R.H.)
Menghitung
Bintang di Langit (Imawan, Riswandha)
LSM,
Suara Donor atau Suara Rakyat? (Wibisono, Sonny)
Posisi
Presiden dan DPR Pascapemilu (Piliang, Indra J)
Calon
Presiden dan Korupsi (Masduki, Teten)
Masa
Depan HAM dan Pemilihan Presiden (Hendardi)
Rasa
Ketertindasan "Dimakamkan" di Mana? (Manulang, Sihol)
Jadi
Pengamat Memang Sulit (Bhakti, Ikrar Nusa)
Sulitnya
Jadi Pengamat (Wahid, Abdurrahman)
Melahirkan
Kepemimpinan Baru (Madjid, Nurcholish)
Jika
Megawati Terpilih Lagi (Maniagasi, Frans)
Prakira
Pasar Politik Pilpres (Djarot, Eros)
Pentingnya
''Platform'' Ekonomi Calon Presiden (Ali, Achmad)
Berdemokrasi
di tengah Ancaman Kekerasan (Mujiran, Paulus)
Rekonsolidasi
Civil Society (Prang, Amrizal J)
Visi,
Misi, dan Gizi Politik (Seda, Frans)
'Quo
Vadis' Ekonomi Indonesia Pascapemilu 2004 (Idris, Handi Risza)
”Illegal
Logging”, Isu Strategis Kampanye Capres (Dahlan, Muhamad)
Mitos
Golput (Mujani, Saiful)
Potensi
NU Menjadi Oposisi (Anam, Khoirul A.)
Yang
Terang dan Abu-abu Dalam NU (Abshar-Abdalla, Ulil)
Suara
Elektoral dan Perolehan Kursi DPR (Arifin, Moh. Samsul)
Umat
Islam dan Pemilu Presiden (Alhumami, Amich)
Mempertimbangkan
Pelembagaan Oposisi (Agus Muhammad)
"Civil
Society" dan Godaan Pemilu Presiden (Hasyim, Syafiq)
Aceh
Pada bulan Mei, status darurat militer untuk Aceh telah
diturunkan menjadi kondisi darurat sipil dan mengembalikan kendali pemerintahan
kepada pihak sipil. Walaupun demikian,
keprihatinan tetap muncul atas korupsi, kekerasan oleh kedua belah pihak (GAM
dan TNI), dan kurangnya pelayanan kebutuhan dasar untuk masyarakat (BBC). Pihak Pemerintahan Darurat Sipil Daerah
telah mengumumkan perintah “tembak di tempat” masih tetap berlaku terhadap
mereka yang mengganggu ketertiban, demikian pula dengan larangan kunjungan
warga negara asing, kecuali di Sabang.
Palang Merah Indonesia
mengumumkan pada 18 Mei bahwa pihaknya telah menyerahkan 151 orang
sandera yang dibebaskan oleh GAM, termasuk jurukamera televise Fery Santoro (ICRC).
Pada bulan Juni, pemerintah Swedia menahan tiga pemimpin GAM
di pengasinga dengan tuduhan mereka melanggar hokum internasional, namun
ketiganya kemudian dibebaskan karena bukti pelanggaran itu tidak memadai. (Laksamana). Gubernur Aceh, Abdullah Puteh, diperiksa
karena dituduh terlibat dalam kasus suap dan korupsi jutaan dolar AS anggaran
milik negara; Laksamana
melaporkan ada 42 kasus korupsi yang melibatkan pegawai pemerintahan di Aceh.
Artikel menarik mengenai Aceh:
Pertanggungjawaban
Operasi Militer di Aceh (Sukadis, Beni)
Tantangan
Polri sebagai Mitra Masyarakat (Djamin, Awaloedin)
Proses
Hukum Hassan Tiro Cs (Juwana, Hikmahanto)
Pilsung
Kepala Daerah (Soetardji M., H. S.)
Pak,
Semua itu Duit Rakyat (Armanjaya, Lexy)
Militer,
Sipil, dan Demokrasi (Widyatmadja, Josef P.)
Sulitnya
Sekolah di Buket Hagu (Kompas)
'Anak
Ayam' di Sarang GAM (Arifin, Husni)
Daerah
Konflik dan Pemulihan Ekonomi (Hasan, Amris)
Lelahnya
Menjemput Ferry di Sarang GAM (Kompas)
Hukum
Humaniter dan Wartawan Meliput Konflik (Herlina, Tutut)
Darurat
Militer dan Nasib Rakyat Aceh (Suryopratomo)
Bumi
Semakin Panas (Bantasyam, Saifuddin)
Proyek
Ladia Galaska Kurang Pertimbangkan Kerawanan Bencana (Kompas)
Separatisme,
Sebuah Refleksi Internasional (M, Nanang Pamuji)
Fantasi
Separatisme (Risakotta, Farsijana A)
Refleksi
Pendidikan di Negeri Aceh (Syarif, Sabiqul Khair)
Perjalanan
ke Tiro, Meliput Pemilu H-1 (Hamzah, Murizal)
Pasang
Surut Peristiwa di Aceh (Djalil, H Munawar A)
Penyelesaian
Konflik Aceh Pascapemilu (Al Mubarak, Taufik)
Proyek
Ladia Galaska, Beutong Ateuh, dan Pinding (Kompas)
Mencari
Jarum dalam Tumpukan Jerami (Bantasyam, Saifuddin)
Aceh
Kacau, Siapa Bilang? (Kompas)
Masa
Lalu, Rekonsiliasi, dan Pemilu 2004 (Susanto, Happy)
Maluku
Maluku kembali mengalami kekerasan sectarian dengan tembakan
penembak jitu (sniper) dan bom, yang menambah ketakutan kembalinya konflik
antara kelompok Islam dan Kristen seperti saat sebelum Perjanjian Damai Malino
pada 2002 (BBC). Kapolda Maluku diganti segera setelah
kekerasan meletus di Ambon; ada
kecurigaan kalau kekerasan tersebut memang sengaja ditimbulkan oleh pihak
tertentu (International
Crisis Group).
Artikel tambahan
mengenai Maluku:
Agenda
Permasalahan yang Dihadapi Polisi (Khoidin, M.)
Ada
Asap Tanpa Api? (Sahetapy, J. E.)
Mata
Rantai yang Hilang dalam Kasus Maluku (Tianlean, Bakri AG)
Satu
Kilometer Sepanjang "Jalur Gaza" Ambon (Wisudo, P
Bambang)
"Seng
Ada Lai Bakubae" (Kompas)
Ambon,
Korban Kegagalan Negara (Tomagola, Tamrin Amal)
Sulawesi
Tuduhan adanya kebrutalan polisi dalam sebuah aksi protes
mahasiswa di Universitas Muslim Indonesia (UMI) pada 1 Mei lalu mengakibatkan
dicopotnya Kapoltabes Makassar. (Tempo)
Pada 26 Mei, Fery Silalahi, seorang jaksa yang menangani kasus-kasus
terorisme, ditembak mati di Palu, ibukota propinsi Sulawesi Tengah. Sebagaimana jaksa lainnya di propinsi
tersebut, Silalahi menangani berbagai kasus, termasuk korupsi dan terorisme,
termasuk kasus terbaru yang melibatkan tersangka anggota Jemaah Islamiyah (JI)
seperti Muhammad Fauzan, Nizam,
Firmansyah, Fajri, dan Aang Hasanuddin (Laksamana).
Artikel tambahan mengenai
Sulawesi:
Ketenangan
Poso Terusik Kembali (Suara Pembaruan)
Papua
Pada 24 Juni, sebuah dewan juri federal AS menuduh seorang
anggota Organisasi Papua Merdeka (OPM) dengan dua tuduhan pembunuhan, delapan
tuduhan percobaan pembunuhan, dan tuduhan lainnya dalam sebuah kasus penyerbuan
di dekat tambang Freeport di Timika, papua, pada Agustus 2002. (BBC)
Amerika Serikat menghentikan kerjasama militer antara AS dan Indonesia
pada 1999, menyusul pelanggaran yang dilakukan TNI di Timor Timur. Kecurigaan akan terlibatnya pihak militer
Indonesia dan pandangan bahwa pemerintah Indonesia kurang aktif memburu para
pelaku pelanggaran itulah yang dianggap sebagai faktor penghambat utama
dicabutnya penghentian kerjasama militer antara kedua negara.
Pengadilan Tata Usaha
Negara (PTUN) pada 15 Juni menyatakan penunjukan Abraham Octavianus Atururi
sebagai gubernur Irian Jaya Barat (Irjabar) tidak sah. Beberapa tokoh Papua segera mengimbau
pemerintah untuk mematuhi keputusan pengadilan tersebut yang menganggap Keppres
nomor 213 Tahun 2003 yang mengangkat gubernur Irjabar tersebut bertentangan dengan
UU Otonomi Khusus Papua Tahun 2001. Mereka memperingatkan rakyat Papua bisa kehilangan kepercayaannya
kepada pemerintah pusat kalau keputusan PTUN itu tak dipatuhi. (Laksamana).
Pada 9 Juni, polisi
mengumumkan mereka akan menyelidiki kekerasan antarsuku yang terjadi di kota
Timika, kabupaten Mimika, yang menelan empat korban tewas. (Laksamana).
Laporan bulanan dari lembaga Robert F. Kennedy Memorial
Center for Human Rights memaparkan secara terperinci mengenai kondisi HAM di
propinsi Papua. (Laporan April 2004
tersedia di sini)
Artikel tambahan
mengenai Papua:
Masih
Adakah Masa Depan Papua di Republik Ini? (Maniagasi, Frans)