more about search
Further research activities on this portal have been suspended due to shifting priorities within HPCR. Since the current database contains valuable information for practitioners, HPCR intends to keep this portal available in its current state.

Indonesia Update
July 2003 
August 2003 
October 2003 
November 2003 
December 2003 
January 2004 
February 2004 
March 2004 
April 2004 
July 2004 
October 2004 
Indonesia Update
31 July 2003

Aceh

Agence France Presse reported that through 27 July, the Indonesian military claimed that it had killed around 531 GAM (Free Aceh Movement) members and captured 1,277 others.

Thousands of people who fled homes in Aceh due to fighting have since returned, but around 38,000 refugees are still residing in camps, according to Reuters. The military has been holding rallies to demonstrate what it deems public support for national unity. But the International Crisis Group (ICG) criticized this approach, claiming that the rallies, in which it says participation is forced, "do not help end separatism: they generate more support for it."

According to the BBC, high-profile GAM negotiators who helped broker the CoHA (Cessation on Hostility Agreement) between GAM and Indonesian government in Geneva last December are among those now on trial for treason and terrorism in Indonesia.

In the meantime, Tempo says that reporters are still being held hostage by GAM, while American journalist William Nessen is being tried by the Indonesian government for misuse of his visa while reporting from Aceh.

According to Agence France-Presse, the European Union has expressed its concerns about humanitarian access in Aceh and is urging the Indonesian government to provide open access to victims of the conflict.

More articles on Aceh:

  1. Aceh: How Not to Win Hearts and Minds (International Crisis Group)
  2. Chronicling horrors in Aceh (McCulloch, Lesley)
  3. Aceh conflict becoming the forgotten war (Australian Broadcasting Corporation)
  4. Indonesia: OCHA Daily sitrep on Aceh No. 60 (UN Office for the Coordination of Humanitarian Affairs)
  5. Healing With Bullets (Laksamana)
  6. The other side to Aceh's rebels (Schulze, Kirsten E)
  7. Indonesian military hems in press on Aceh (Neumann, A Lin)
  8. Aceh's war centres on resources (Gedicks, Al)
  9. Aceh war to last until separatists rooted out: Indonesian military (Agence France-Presse)
  10. Refugees at main camp in Indonesia's Aceh go home (Reuters)
  11. Aceh negotiators put on trial (BBC)
  12. European Union urges Indonesia to allow access to Aceh war victims (Agence France-Presse)
  13. Aceh rebels claim to hold missing Indonesian TV crew and two civilians (Agence France-Presse)
  14. Yudhoyono Expects RCTI Reporter to Cooperate (Tempo)
  15. American journalist to face Aceh trial on July 23 (Reuters)

Papua

On 18 July, Reuters said that the FBI completed its two-week investigations in the Timika murder case involving the deaths of two Americans and an Indonesian colleague last August. The FBI agents have since returned to the US with forensic evidence.

According to the Christian Science Monitor, Indonesian officials have been cooperating with the Bush administration throughout the investigation, while a U.S. military aid package for Indonesia faces congressional scrutiny. The Washington Post, however, reports that the Indonesian government has prevented U.S. officials from interviewing soldiers in Papua absent their superiors.

More articles on Papua:

  1. Paul Wolfowitz's Indonesia amnesia (Lobe, Jim)
  2. U.S. rewards Indonesian military as probe continues (Christian Science Monitor)
  3. Talk of Aiding Indonesia Military Angers Ambush Survivors (Washington Post)

Jakarta

On the morning of Monday, 14 July, bombs rocked the parliament building, though no casualties were reported, according to Reuters. Investigations are still going on and police speculate from bomb fragments that the explosives were similar to those set off near the UN offices and international airport in Jakarta last April, according to Agence France-Presse.

On 11 July, Indonesian police arrested nine suspected Jemaah Islamiah (JI) militants linked to last year's Bali attacks after raiding homes in Jakarta and Semarang. According to Reuters, the police also seized a weapons cache and explosives and chemicals sufficient to produce a bomb 10 times bigger than those used in the Bali blasts.

More information on Jakarta:

  1. The roots of Jemaah Islamiyah (Chew, Amy)
  2. Indonesia Arrests Militants, Finds Weapons Cache (Reuters)
  3. Megawati takes a page from Suharto (Lobe, Jim)
  4. How Al-Qaeda lit the Bali fuse: Part 3 (Murphy, Dan)
  5. Killers among us (Jakarta Post)
  6. A Return To The New Order?: Political Prisoners in Megawati's Indonesia (Human Rights Watch)
  7. Bali: Help me get my feet back on the ground (LaMoshi, Gary)
  8. Indonesian police hopeful of catching parliament building bombers (Agence France-Presse)

Sulawesi

On 11 July, a bomb exploded at a coffee shop and injured three in Poso, Central Sulawesi, Agence France-Presse reported. Just over a week later, on 22 July, according to Radio Australia, police shot dead one man and wounded two others while trying to break up a protest by villagers who claimed that a plantation firm, PT London Sumatra, had grabbed their land in Bulukumba, South Sulawesi.

Though the government brokered a peace deal in December 2001, sporadic outbursts of violence still occur between Christians and Muslims in Sulawesi. According to Agence France-Presse, the clashes have now claimed some 1,000 lives since 2000.

More information on Sulawesi:

  1. Indonesia: Managing Decentralisation and Conflict In South Sulawesi (International Crisis Group)
  2. Indonesia - OCHA Consolidated Situation Report No. 138 (UN Office for the Coordination of Humanitarian Affairs)
  3. Bomb explosion injures three in Indonesia's restive Poso (Agence France-Presse)
  4. Man killed by police at Indonesian rubber plantation (Radio Australia)
  5. Explosives stash found in Indonesia (Daily Telegraph)
  6. Violence Flares in Kalimantan, Sulawesi (Laksamana)

Indonesian version

Aceh

Agence France Presse melaporkan bahwa sampai 27 Juli, pihak militer Indonesia mengklaim telah menewaskan 531 anggota GAM (Gerakan Aceh Merdeka) dan menangkap 1.277 anggota lainnya.

Menurut kantor berita Reuters, ribuan pengungis telah kembali ke rumah masing-masing, sedangkan sekitar 38.000 pengungsi lagi masih tinggal di beberapa kamp pengungsian. Sementara itu, pihak penguasa darurat militer terus mengadakan upacara yang menunjukkan dukungan masyarakat terhadap negara kesatuan RI. Namun, menurut laporan International Crisis Group (ICG), upacara-upacara semacam itu "tidak membantu mengurangi gerakan separatisme, malah justru mendorongnya."

Menurut BBC, para juru runding GAM yang membantu lahirnya CoHA (Cessation on Hostility Agreement) antara GAM dan pemerintah Indonesian di Jenewa pada Desember tahun lalu termasuk mereka yang diadili pengadilan RI dengan tuduhan gerakan makar dan terorisme.

Sementara itu, menurut Tempo, wartawan RCTI masih dalam sekapan GAM, sedangkan wartawan lepas Amerika William Nessen sedang diadili dengan tuduhan penyalahgunaan izin visa. Menurut kantor berita Agence France-Presse, Masyarakat Eropa menyatakan keprihatinannya dan mendesak pemerintah Indonesia agar bantuan kemanusiaan asing bisa langsung membantu para korban konflik di Aceh.

Informasi tambahan mengenai Aceh:

  1. Di Hutan Bakau GAM Bersembunyi (Kompas)
  2. Kelahiran Rasa Nasionalisme (Ansyari, Rosehan)
  3. Menumbuhkan Politik 'Biofilia' di Aceh (HN, Sudirman)
  4. Refleksi Hari Anak Nasional 23 Juli 2003: Generasi Penuh Trauma (DS, Endriani)
  5. Menguak Kuburan Massal di Dataran Tinggi Gayo (Kompas)
  6. Hubungan Mahasiswa dan Militer (Nurhasim, Ahmad)
  7. Resolusi Konflik Aceh (Djalil, H Munawar A)
  8. Amnesti, Abolisi, Grasi dan Rehabilitasi (Taqwaddin)
  9. Belajar dari Pluralitas Kecil (Piliang, Yasraf Amir)
  10. Berdamai dengan Aceh (suatu pengalaman sejarah) (As, Nab Bahany)
  11. Perubahan Skenario Perang Aceh ( Ishak, Otto Syamsuddin)
  12. Pendidikan NAD Sedang Sakit (Idris, Razali)
  13. Kuburan Massal di Aceh (Ali, Achmad)

Papua

Pada 18 Juli, Reuters melaporkan bahwa FBI (biro penyelidik federal AS) telah menyelesaikan penyelidikannya selama dua minggu di Timika untuk kasus pembunuhan dua warga negara AS dan satu warga negara Indonesia pada Agustus tahun lalu. Agen-agen FBI tersebut kembali ke AS dengan bukti forensik.

Menurut Christian Science Monitor, para pejabat Indonesia telah bekerjasama dengan pemerintahan Bush selama penyelidikan, walaupun paket bantuan militer AS kepada Indonesia menghadapi pengawasan yang sangat ketat dari anggota Kongres. Menurut Washington Post, pihak Indonesia mencegah penyelidik FBI menginterogasi tentara yang terlibat jika tidak disertai atasan sang prajurit.

Informasi tambahan mengenai Papua:

  1. Otonomi Khusus Papua dan MRP (Piliang, Indra J)
  2. Papua setelah 5 tahun Reformasi (3-habis) (Suara Pembaruan)
  3. Jaap Solossa: Upayakan Terus Buka Keterisolasian Masyarakat (Suara Karya)

Jakarta

Senin pagi, 14 Juli, bom meledak di kompleks gedung DPR yang menurut kantor berita Reuters tidak menimbulkan korban. Penyelidikan masih berlangsung dan menurut Agence France-Presse, polisi berspekulasi bahwa pecahan bom mengindikasikan kalau bahan peledaknya mirip dengan bom yang meledak di dekat kantor perwakilan PBB dan bandara internasional Jakarta, April lalu.

Pada 11 Juli, polisi Indonesia menggerebek beberapa rumah di Jakarta dan Semarang, dan berhasil menangkap sembilan tersangka militan Jemaah Islamiah (JI) yang masih berkaitan dengan kasus bom Bali. Menurut Reuters, polisi juga berhasil menyita senjata, amunisi, dan bahan kimia dan peledak yang bisa menghasilkan bom yang 10 kali lipat lebih kuat daripada bom yang meledak di Bali.

Informasi tambahan mengenai Jakarta:

  1. Fenomena Jama'ah Islamiyah (Zada, Khamami)
  2. Dicari: Keunggulan Budaya (Wahid, Abdurrahman)
  3. Depresiasi Rupiah (Kiryanto, Ryan)
  4. Devisa Kita dan Pemandoran (Gie, Kwik Kian)
  5. Punya Musuh? Pembunuh Bayaran Siap Membantu (Media Indonesia)
  6. Polisi, Profesionalisme dan Humanisme (Ida, Laode)
  7. Hancurnya Moralitas Kekuasaan (AR, Muhtadin)
  8. Pilihan-pilihan Anak Bangsa (Sutrisno, Mudji)
  9. Pemilihan Presiden dan Prospek Reformasi (Ghazali, Abd Rohim)
  10. Menuju Proses Demokrasi Pemilu 2004 (Eksan, Mokh.)
  11. DPR Kuasa: Siapa Mengendalikan? (Legowo, TA)
  12. Memaknai Pemikiran Ki Hadjar Dewantara tentang Pendidikan (Gunawan, Ki)
  13. Dilema PT Dirgantara Indonesia (Rijanto)
  14. Rapor Merah Pembangunan Manusia Indonesia (Ali, Achmad)

Sulawesi

Pada 11 Juli, Agence France-Presse melaporkan bahwa sebuah bom meledak di sebuah warung kopi dan melukai tiga orang di Poso, Sulawesi Tengah. Walaupun pemerintah telah berhasil mendamaikan pihak-pihak yang bertikai di Poso pada Desember 2001, kekerasan masih terjadi secara sporadic antara kelompok Kristen dan Islam di Sulawesi. Menurut kalkulasi Agence France-Presse, kekerasan yang terjadi sejak 2000 itu telah menelan sekitar 1.000 korban jiwa.

Hanya sekitar seminggu kemudian, menurut Radio Australia, polisi menembak mati satu orang dan melukai dua lainnya dalam sebuah aksi protes sekelompok masyarakat di Bulukumba, Sulawesi Selatan, yang mengklaim tanahnya diserobot perusahaan perkebunan PT London Sumatra.

Informasi tambahan mengenai Sulawesi:

  1. Dua DPO Serahkan Diri (Harian Fajar)
  2. Penemuan 18 Bom Rakitan Diduga Terkait Jaringan Teroris (Sinar Harapan)
  3. TNI-AL Terus Awasi Perbatasan (Manado Post)
  4. Bom Meledak, Empat Warga Terluka (Harian Fajar)




Program on Humanitarian Policy and Conflict Research
Copyright © 2001 by the President and Fellows of Harvard College
HPCR Portals: Central Asia    Indonesia    Nepal    Economics and Conflict
www.preventconflict.org/portal/main/portalhome.php
www.hsph.harvard.edu/hpcr/cpi/cpi.htm

HPCR is not responsible for the content of external publications and Internet sites linked on this portal.