Susilo Bambang Yudhoyono, a retired general and former senior security minister,
will be the sixth Indonesian president and the first to be elected through direct
presidential elections. He will be inaugurated on October 20, 2004. After
securing approximately 60% of the votes, he will face a challenge in parliament,
where the majority of the seats are occupied by Megawati's PDI-P and Akbar
Tanjung's Golkar Party. Akbar initially created the National Coalition to
support Megawati's bid for re-election; following Megawati's defeat, Akbar
attempted to preserve the coalition as an opposition movement to President
Yudhoyono for "checks and balances". Akbar's coalition, however, was
short-lived when former vice president Hamzah Haz's party, PPP, left the National
Coalition and joined Yudhoyono's party coalition in the parliament.
United Nations Secretary-General Kofi Annan again repudiated all terrorist
actions when, a car bomb exploded on September 9, 2004 outside the Australian
Embassy compound in Jakarta, killing at least nine people and injuring more than
100 others. (UN News Centre) Indonesian Police are pursuing the masterminds
of this bombing, and suspect senior members of the Jemaah Islamiyah terrorist
group. Abu Bakar Bashir, who police accused as the leader of JI, is still in
a Jakarta jail and waiting for trial on charges of terrorism.
The United States Department of State released in September its International
Religious Freedom Report for 2004, stating that most of the population in Indonesia
enjoys a high level of religious freedom; however, some discrimination and abuse of
certain religious groups occurred which the government subsequently treated with
impunity.
Munir, one of Indonesia's most respected human rights activists passed away on
September 7 at the age of 38. He is best known as the founder of the Commission for
Missing Persons and Victims of Violence (Kontras), which was formed in response to
the abduction of two dozen pro-democracy activists in late 1997 and early
1998. Many of the activists are still missing, presumed killed by their
alleged military abductors.
Two important military figures have also passed away. General Leonardus
Benyamin "Beny" Moerdani passed away on August 28, 2004, several weeks before his
72nd birthday. He was sent to Papua in the 1960s and secured
the controversial UN-sponsored public poll that eventually approved Jakarta's
sovereignty over Irian Jaya (Papua). On September 8, 2004, General Muhammad
Yusuf passed away at the age of 76. Yusuf was an important witness when
Sukarno, Indonesia's first president, gave an order known as Supersemar to General
Suharto to maintain order and security during the political turmoil of 1965.
The Supersemar document was never found and Suharto eventually replaced Sukarno as
Indonesia's second president.
For more information, please see:
Aceh
Amnesty International released a report in early
October alleging that "information collected provides ample evidence of a
disturbing pattern of grave abuses of civil, political, economic, social, and
cultural rights in NAD [Aceh]. The Indonesian security forces bear primary
responsibility for these human rights violations, although GAM has also committed
serious human rights abuses, most notably the taking of hostages and the use of
child soldiers."
In September, a report by Human
Rights Watch described abuses by the government and military including torture,
coerced confessions, trials and detentions that do not measure up to standards of
fair trials.
Ishak Daud, the Free Aceh Movement (GAM) chief of staff, and 14 other rebels
were killed in a firefight in East Aceh September 7, 2004. Daud, formerly the
movement's East Aceh commander, was among senior GAM rebels wanted by the
government after his group hijacked a car with a television crew and the wives of
two Air Force officers last year.
Tempo reported September 6 that the Indonesian military (TNI) has been
investigating the possible involvement of Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) governor
Abdullah Puteh with the Free Aceh Movement (GAM) separatist group. The latest
accusation is yet another problem for Governor Abdullah Puteh, who is preparing to
testify in a corruption case against his administration.
For more information, please see:
Sulawesi
In what is now known as the Buyat Bay pollution case, an Indonesian government
panel announced August 31 that the Newmont mining company "illegally disposed" of
waste containing arsenic and mercury in the ocean and had failed to get the
required permits from the Ministry of Environment since 1996, the New York Times
reported. The findings came a week after a local legal aid group filed suit in
South Jakarta on behalf of three villagers, alleging that they became sick due to
mine waste pollution. Newmont argued that it has implemented strict procedure of
waste disposal and accused the local miners as the culprits. Several Newmont
employees were arrested, and the environment minister, Nabiel Makarim, said the
company might face criminal charges.
For more information, please see:
Papua
In early July, the U.S.-based National Security Archive, an independent
non-governmental organization, released records obtained through the US Freedom of
Information Act that detail US support for the 1969 Indonesian annexation of West
Papua. The proposal to divide Papua into three separate provinces, a contentious
issue, has not yet been resolved by the Constitutional Court.
A leader of the Free Papua Organization (OPM) was sentenced in August to 10
years in prison on charges of instigating a rebellion against the state, according
to Radio Australia.
The Indonesian National Police have set up a 25-member team to follow up on the
findings of the joint probe by the police and the U.S. Federal Bureau of
Investigation into the 2002 ambush and shooting near the Freeport mine in the town
of Timika, reported Laksamana on October 9. Two US nationals and an Indonesian died
and 11 other people were injured when a group of men opened fire on their bus in
August 2002.
For more information, please see:
Indonesian version
Susilo Bambang Yudhoyono, purnawirawan jenderal dan mantan Menko Polkam, akan
menjadi Presiden RI yang ke-6 dan yang pertama dipilih secara langsung dalam
pemilihan presiden. Dia akan dilantik tanggal 20 Oktober 2004. Setelah
merebut 60 persen suara pemilih, dia akan menghadapi tantangan di parlemen yang
secara mayoritas dikuasai Partai Golkar yang dipimpin Akbar Tanjung dan PDI-P yang
dipimpin mantan Presiden Megawati. Akbar sebelumnya mendirikan Koalisi
Kebangsaan untuk mendukung upaya Megawati terpilih kembali menjadi presiden.
Namun, setelah gagal menjadikan Megawati presiden, Akbar merusaha meneruskan
koalisi sebagai kekuatan oposisi terhadap pemerintahan Presiden Yudhoyono untuk
menciptakan proses kontrol dan pengimbangan. Koalisi Akbar ternyata
berumur pendek karena partai mantan Wapres Hamzah Haz, PPP, keluar dari Koalisi
Kebangsaan dan bergabung dengan koalisi partai-partai yang bersimpati dengan
Presiden Yudhoyono di parlemen.
Departemen Luar Negeri AS menerbitkan Laporan Kebebasan Beragama Internasional
edisi 2004 yang isinya antara lain menyebutkan kebanyakan masyarakat Indonesia
menikmati kebebasan beragama yang cukup tinggi. Walaupun demikian, beberapa
kasus diskriminasi dan pelecehan terhadap kelompok-kelompok agama tertentu masih
terjadi dan pemerintah Indonesia tampaknya membiarkan kasus-kasus tersebut.
Sekjen PBB Kofi Annan sekali lagi mengecam semua tindakan terorisme ketika
sebuah bom mobil meledak di depan Kedubes Australia di Jakarta pada 9 September
2004 yang menewaskan sembilan orang dan mencederai sekitar 100 orang lainnya.
Polisi Indonesia sedang memburu dalang pemboman ini dan mencurigai tokoh-tokoh
senior organisasi terror Jemaah Islamiyah terlibat dalam aksi pemboman
ini. Sementara itu, Abu Bakar Bashir, tokoh yang menurut polisi merupakan
pemimpin JI, masih berada dalam tahanan polisi di Jakarta dan siap menghadapi
sidang pengadilan atas tuduhan aksi terorisme.
Munir, salah seorang pejuang hak asasi manusia Indonesia yang cukup dihormati,
telah meninggal dunia pada 7 September 2004 dalam usia 38 tahun. Dia terkenal
sebagai pendiri organisasi Komisi Orang Hilang dan Korban Kekerasan (Kontras) yang
dibentuk untuk memecahkan masalah penculikan para aktifis pro-demokrasi pada akhir
1997 dan awal 1998. Banyak aktifis yang masih hilang, diperkirakan dibunuh
oleh aparat militer yang menculiknya.
Dua tokoh penting militer juga meninggal dunia. Jenderal Leonardus
Benyamin "Beny" Moerdani meninggal pada 28 Agustus 2004, beberapa pecan sebelum
ulangtahunnya yang ke-72. Dia pernah ditugaskan ke Irian Jaya pada 1960-an
untuk mengamankan proses jajak pendapat rakyat yang disponsori PBB yang akhirnya
mengakui kedaulatan Jakarta atas Irian Jaya atau Papua. Jenderal Muhammad
Yusuf meninggal pada 8 September 2004 dalam usia 76 tahun. Yusuf
termasuk salah satu saksi penting ketika Presiden Sukarno memerintahkan Jenderal
Suharto untuk menormalkan kondisi keamanan negara di tengah pergulatan politik 1965
melalui Supersemar (Surat Perintah 11 Maret). Dokumen asli Supersemar tak
pernah ditemukan dan Suharto akhirnya menggantikan Sukarno dan menjadi Presiden
kedua Indonesia.
Informasi tambahan mengenai topik-topik di atas:
Pemilu 2004 dan Susunan Masyarakat Kita (Kuntowijoyo)
Selamat, Doktor SBY (Geovanie, J.)
Presiden Baru dan Kepemimpinan TNI (Santoso, Aris)
Saatnya Indonesia Kerja Keras (Winters, Jeffrey)
Politik setelah Pemilu Presiden (JA, Denny)
Makna Kekalahan Megawati (Siagian, Sabam)
Enam Tanjakan di Depan SBY (Imawan, Riswandha)
Fenomena 'Quick Count' (Gazali, Effendi)
Mengapa Polisi Selalu Terlambat Ungkap Dalang Berbagai
Pengeboman? (Baringbing, RE)
Rukun Tetangga dan Lawan Terorisme (Ali, Alman Helvas)
Sikap Australia dan Teror Bom Kuningan (Crouch, Harold)
Teror Bom, Intelijen, dan Tentara (Lesmana, Tjipta)
Apa Dosa Rakyat Indonesia pada JI? (Awwas, Irfan S.)
Bom Kuningan dan Naiknya Biaya Transaksi (Basri, M. Chatib)
Perkiraan Dampak Ekonomi Bom Kuningan (Tambunan, Tulus)
Antara Kuningan dan Senayan (Amir, Sulfikar)
Bom Kedubes Australia dan Perang Global (Nitibaskara, Tb Ronny
Rahman)
Cak Munir, Engkau Tak Pernah Pergi (Nashidik, Rachland)
Kini Aktivis Pemberani Itu Kalah (Djatmika, Prija)
Aceh
Amnesty International menerbitkan laporan awal
Oktober ini mengenai "informasi yang dikumpulkan menunjukkan cukup bukti tentang
pola pelanggaran hak-hak sipil, politik, ekonomi, social, dan budaya di Nanggroe
Aceh Darussalam (NAD). Pihak militer Indonesia memikul tanggungjawab
paling besar terhadap pelanggaran hak asasi manusia ini, meskipun GAM juga
melakukan pelanggaran serius hak asasi manusia juga, terutama dalam penculikan dan
perekrutan anak-anak menjadi tentara GAM."
Dalam bulan September, sebuah laporan Human Rights
Watch menggambarkan pelanggaran yang dilakukan oleh pemerintah dan militer,
termasuk penyiksaan, pengakuan dengan paksaan, pengadilan dan penahanan yang tidak
mengikuti kaidah-kaidah hukum yang adil.
Ishak Daud, panglima militer Gerakan Aceh Merdeka (GAM), dan 14 pemberontak
lainnya terbunuh dalam sebuah kontak tembak di Aceh Timur, 7 September 2004.
Daud, mantan komandan GAM wilayah Aceh Timur, termasuk salah satu pemberontak yang
diburu pemerintah Indonesia setelah menculik dua wartawan televisi Indonesia dan
dua isteri perwira TNI Angkatan Udara tahun lalu.
Tempo melaporkan 6 September lalu bahwa TNI sedang menyelidiki
kemungkinan terlibatnya gubernur Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) Abdullah Puteh
dalam organisasi separatis Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Tuduhan terakhir yang
juga mesti dibuktikan di pengadilan adalah kasus korupsi di dalam pemerintahan
gubernur Abdullah Puteh.
Informasi tambahan mengenai Aceh:
Siapa Peduli Kesehatan Anak-anak Aceh? (Republika)
Aceh dan Peran Kemerdekaan RI (Arifin, Bustanil)
Sulawesi
Berkaitan dengan kasus pencemaran lingkungan yang dikenal dengan kasus Teluk
Buyat, sebuah panel pemerintah Indonesia mengumumkan pada 31 Agustus lalu bahwa
perusahaan tambang Newmont dengan illegal membuang limbah yang mengandung bahan
merkuri (air raksa) dan racun arsen ke lautan dan gagal mendapatkan izin untuk itu
dari Kementerian Lingkungan Hidup meskipun sudah mengusahakannya sejak 1996.
Penemuan ini diumumkan seminggu setelah lembaga bantuan hukum setempat mengajukan
tuntutan di Pengadilan Jakarta Selatan atas nama tiga penduduk desa di kawasan
Buyat yang menderita sakit akibat pencemaran tersebut. Newmont berkilah bahwa
pihaknya sudah menerapkan prosedur pembuangan limbah secara ketat dan balik menuduh
penambang liar lokal sebagai sumber pencemaran tersebut. Beberapa manajer dan
direktur Newmont masih dalam tahanan polisi dan Menteri Lingkungan Hidup Nabiel
Makarim mengisyaratkan pimpinan usaha tambang asal Amerika Serikat ini akan
menghadapi tuduhan tindak pidana kriminal.
Informasi tambahan mengenai Sulawesi:
Menyikapi Polemik Kasus Buyat (Fauzi, Akhmad)
Kasus Buyat, Bencana Lingkungan Buatan Manusia (Sibuea, Posman)
Investasi dan Lingkungan (Silalahi, Pande Radja)
Merkuri dan Arsen di Teluk Buyat (Bramono, Sandhi Eko)
Papua
Awal Juli lalu, National Security Archive, sebuah lembaga non-pemerintah
independent yang berpusat di Amerika Serikat, menerbitkan arsip yang
diperolehnya berdasarkan US Freedom of Information Act yang menjelaskan secara
terperinci mengenai dukungan AS terhadap Indonesia untuk menguasai Irian Jaya pada
1969. Sementara itu, usulan untuk membagi Papua menjadi tiga propinsi, sebuah
usul yang menghebohkan, masih belum bisa diputuskan oleh Mahkamah Konstitusi.
Agustus lalu, seorang pemimpin Organisasi Papua Merdeka (OPM) dijatuhi hukuman
10 tahun dengan tuduhan menganjurkan pemberontakan terhadap negara. (Radio
Australia)
Kepolisian RI telah membentuk tim yang beranggotakan 25 orang untuk
menindaklanjuti temuan dari tim penyelidik gabungan polisi dan U.S. Federal Bureau
of Investigation (FBI) dalam kasus penembakan Agustus 2002 di Timika, dekat tambang
Freeport, demikian menurut laporan Laksamana pada 9 Oktober lalu. Dua warga
negara AS dan satu warga negara Indonesia tewas dan 11 orang lainnya luka-luka
ketika segerombolan orang menembak bis yang mereka tumpangi pada Agustus 2002.
Informasi tambahan mengenai Papua:
Mengapa Asing Ikut Bermain di Papua? (1) (Sinar Harapan)
Kontroversi Kewenangan Gubernur (Prasojo, Eko)
Gairah Merah Putih di Daerah Konflik (Hamzah, Murizal)
Indonesia, Sebuah Bangsa? (Hargens, Boni)
Regulasi tentang Batas Wilayah NKRI (Evanty, Nukila)
20 Senator AS Soroti Irian Jaya (Mangindaan, Robert)