more about search
Further research activities on this portal have been suspended due to shifting priorities within HPCR. Since the current database contains valuable information for practitioners, HPCR intends to keep this portal available in its current state.

Indonesia Update
July 2003 
August 2003 
October 2003 
November 2003 
December 2003 
January 2004 
February 2004 
March 2004 
April 2004 
July 2004 
October 2004 
Indonesia Update
October 2004

Susilo Bambang Yudhoyono, a retired general and former senior security minister, will be the sixth Indonesian president and the first to be elected through direct presidential elections.  He will be inaugurated on October 20, 2004. After securing approximately 60% of the votes, he will face a challenge in parliament, where the majority of the seats are occupied by Megawati's PDI-P and Akbar Tanjung's Golkar Party.  Akbar initially created the National Coalition to support Megawati's bid for re-election; following Megawati's defeat, Akbar attempted to preserve the coalition as an opposition movement to President Yudhoyono for "checks and balances".  Akbar's coalition, however, was short-lived when former vice president Hamzah Haz's party, PPP, left the National Coalition and joined Yudhoyono's party coalition in the parliament.

United Nations Secretary-General Kofi Annan again repudiated all terrorist actions when, a car bomb exploded on September 9, 2004 outside the Australian Embassy compound in Jakarta, killing at least nine people and injuring more than 100 others.  (UN News Centre) Indonesian Police are pursuing the masterminds of this bombing, and suspect senior members of the Jemaah Islamiyah terrorist group.  Abu Bakar Bashir, who police accused as the leader of JI, is still in a Jakarta jail and waiting for trial on charges of terrorism.

The United States Department of State released in September its International Religious Freedom Report for 2004, stating that most of the population in Indonesia enjoys a high level of religious freedom; however, some discrimination and abuse of certain religious groups occurred which the government subsequently treated with impunity.

Munir, one of Indonesia's most respected human rights activists passed away on September 7 at the age of 38. He is best known as the founder of the Commission for Missing Persons and Victims of Violence (Kontras), which was formed in response to the abduction of two dozen pro-democracy activists in late 1997 and early 1998.  Many of the activists are still missing, presumed killed by their alleged military abductors.

Two important military figures have also passed away.  General Leonardus Benyamin "Beny" Moerdani passed away on August 28, 2004, several weeks before his 72nd  birthday.  He was sent to Papua in the 1960s and secured the controversial UN-sponsored public poll that eventually approved Jakarta's sovereignty over Irian Jaya (Papua).  On September 8, 2004, General Muhammad Yusuf passed away at the age of 76.  Yusuf was an important witness when Sukarno, Indonesia's first president, gave an order known as Supersemar to General Suharto to maintain order and security during the political turmoil of 1965.  The Supersemar document was never found and Suharto eventually replaced Sukarno as Indonesia's second president.

For more information, please see:

Aceh

Amnesty International released a report in early October alleging that "information collected provides ample evidence of a disturbing pattern of grave abuses of civil, political, economic, social, and cultural rights in NAD [Aceh]. The Indonesian security forces bear primary responsibility for these human rights violations, although GAM has also committed serious human rights abuses, most notably the taking of hostages and the use of child soldiers."

In September, a report by Human Rights Watch described abuses by the government and military including torture, coerced confessions, trials and detentions that do not measure up to standards of fair trials.

Ishak Daud, the Free Aceh Movement (GAM) chief of staff, and 14 other rebels were killed in a firefight in East Aceh September 7, 2004.  Daud, formerly the movement's East Aceh commander, was among senior GAM rebels wanted by the government after his group hijacked a car with a television crew and the wives of two Air Force officers last year.

Tempo reported September 6 that the Indonesian military (TNI) has been investigating the possible involvement of Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) governor Abdullah Puteh with the Free Aceh Movement (GAM) separatist group.  The latest accusation is yet another problem for Governor Abdullah Puteh, who is preparing to testify in a corruption case against his administration.

For more information, please see:

Sulawesi

In what is now known as the Buyat Bay pollution case, an Indonesian government panel announced August 31 that the Newmont mining company "illegally disposed" of waste containing arsenic and mercury in the ocean and had failed to get the required permits from the Ministry of Environment since 1996, the New York Times reported. The findings came a week after a local legal aid group filed suit in South Jakarta on behalf of three villagers, alleging that they became sick due to mine waste pollution. Newmont argued that it has implemented strict procedure of waste disposal and accused the local miners as the culprits.  Several Newmont employees were arrested, and the environment minister, Nabiel Makarim, said the company might face criminal charges.

For more information, please see:

Papua

In early July, the U.S.-based National Security Archive, an independent non-governmental organization, released records obtained through the US Freedom of Information Act that detail US support for the 1969 Indonesian annexation of West Papua. The proposal to divide Papua into three separate provinces, a contentious issue, has not yet been resolved by the Constitutional Court.

A leader of the Free Papua Organization (OPM) was sentenced in August to 10 years in prison on charges of instigating a rebellion against the state, according to Radio Australia.

The Indonesian National Police have set up a 25-member team to follow up on the findings of the joint probe by the police and the U.S. Federal Bureau of Investigation into the 2002 ambush and shooting near the Freeport mine in the town of Timika, reported Laksamana on October 9. Two US nationals and an Indonesian died and 11 other people were injured when a group of men opened fire on their bus in August 2002. 

For more information, please see:

Indonesian version

Susilo Bambang Yudhoyono, purnawirawan jenderal dan mantan Menko Polkam, akan menjadi Presiden RI yang ke-6 dan yang pertama dipilih secara langsung dalam pemilihan presiden.  Dia akan dilantik tanggal 20 Oktober 2004.  Setelah merebut 60 persen suara pemilih, dia akan menghadapi tantangan di parlemen yang secara mayoritas dikuasai Partai Golkar yang dipimpin Akbar Tanjung dan PDI-P yang dipimpin mantan Presiden Megawati.   Akbar sebelumnya mendirikan Koalisi Kebangsaan untuk mendukung upaya Megawati terpilih kembali menjadi presiden.  Namun, setelah gagal menjadikan Megawati presiden, Akbar merusaha meneruskan koalisi sebagai kekuatan oposisi terhadap pemerintahan Presiden Yudhoyono untuk menciptakan proses kontrol dan pengimbangan.   Koalisi Akbar ternyata berumur pendek karena partai mantan Wapres Hamzah Haz, PPP, keluar dari Koalisi Kebangsaan dan bergabung dengan koalisi partai-partai yang bersimpati dengan Presiden Yudhoyono di parlemen.

Departemen Luar Negeri AS menerbitkan Laporan Kebebasan Beragama Internasional edisi 2004 yang isinya antara lain menyebutkan kebanyakan masyarakat Indonesia menikmati kebebasan beragama yang cukup tinggi.  Walaupun demikian, beberapa kasus diskriminasi dan pelecehan terhadap kelompok-kelompok agama tertentu masih terjadi dan pemerintah Indonesia tampaknya membiarkan kasus-kasus tersebut.

Sekjen PBB Kofi Annan sekali lagi mengecam semua tindakan terorisme ketika sebuah bom mobil meledak di depan Kedubes Australia di Jakarta pada 9 September 2004 yang menewaskan sembilan orang dan mencederai sekitar 100 orang lainnya.  Polisi Indonesia sedang memburu dalang pemboman ini dan mencurigai tokoh-tokoh senior organisasi terror Jemaah  Islamiyah terlibat dalam aksi pemboman ini.  Sementara itu, Abu Bakar Bashir, tokoh yang menurut polisi merupakan pemimpin JI, masih berada dalam tahanan polisi di Jakarta dan siap menghadapi sidang pengadilan atas tuduhan aksi terorisme.

Munir, salah seorang pejuang hak asasi manusia Indonesia yang cukup dihormati, telah meninggal dunia pada 7 September 2004 dalam usia 38 tahun.  Dia terkenal sebagai pendiri organisasi Komisi Orang Hilang dan Korban Kekerasan (Kontras) yang dibentuk untuk memecahkan masalah penculikan para aktifis pro-demokrasi pada akhir 1997 dan awal 1998.  Banyak aktifis yang masih hilang, diperkirakan dibunuh oleh aparat militer yang menculiknya.

Dua tokoh penting militer juga meninggal dunia.  Jenderal Leonardus Benyamin "Beny" Moerdani meninggal pada 28 Agustus 2004, beberapa pecan sebelum ulangtahunnya yang ke-72.  Dia pernah ditugaskan ke Irian Jaya pada 1960-an untuk mengamankan proses jajak pendapat rakyat yang disponsori PBB yang akhirnya mengakui kedaulatan Jakarta atas Irian Jaya atau Papua.  Jenderal Muhammad Yusuf meninggal pada 8  September 2004 dalam usia 76 tahun.  Yusuf termasuk salah satu saksi penting ketika Presiden Sukarno memerintahkan Jenderal Suharto untuk menormalkan kondisi keamanan negara di tengah pergulatan politik 1965 melalui Supersemar (Surat Perintah 11 Maret).  Dokumen asli Supersemar tak pernah ditemukan dan Suharto akhirnya menggantikan Sukarno dan menjadi Presiden kedua Indonesia.

Informasi tambahan mengenai topik-topik di atas:

Pemilu 2004 dan Susunan Masyarakat Kita (Kuntowijoyo)

Selamat, Doktor SBY (Geovanie, J.)

Presiden Baru dan Kepemimpinan TNI (Santoso, Aris)

Saatnya Indonesia Kerja Keras (Winters, Jeffrey)

Politik setelah Pemilu Presiden (JA, Denny)

Makna Kekalahan Megawati (Siagian, Sabam)

Enam Tanjakan di Depan SBY (Imawan, Riswandha)

Fenomena 'Quick Count' (Gazali, Effendi)

Mengapa Polisi Selalu Terlambat Ungkap Dalang Berbagai Pengeboman? (Baringbing, RE)

Rukun Tetangga dan Lawan Terorisme (Ali, Alman Helvas)

Sikap Australia dan Teror Bom Kuningan (Crouch, Harold)

Teror Bom, Intelijen, dan Tentara (Lesmana, Tjipta)

Apa Dosa Rakyat Indonesia pada JI? (Awwas, Irfan S.)

Bom Kuningan dan Naiknya Biaya Transaksi (Basri, M. Chatib)

Perkiraan Dampak Ekonomi Bom Kuningan (Tambunan, Tulus)

Antara Kuningan dan Senayan (Amir, Sulfikar)

Bom Kedubes Australia dan Perang Global (Nitibaskara, Tb Ronny Rahman)

Cak Munir, Engkau Tak Pernah Pergi (Nashidik, Rachland)

Kini Aktivis Pemberani Itu Kalah (Djatmika, Prija)

Aceh

Amnesty International menerbitkan laporan awal Oktober ini mengenai "informasi yang dikumpulkan menunjukkan cukup bukti tentang pola pelanggaran hak-hak sipil, politik, ekonomi, social, dan budaya di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD).   Pihak militer Indonesia memikul tanggungjawab paling besar terhadap pelanggaran hak asasi manusia ini, meskipun GAM juga melakukan pelanggaran serius hak asasi manusia juga, terutama dalam penculikan dan perekrutan anak-anak menjadi tentara GAM."

Dalam bulan September, sebuah laporan Human Rights Watch menggambarkan pelanggaran yang dilakukan oleh pemerintah dan militer, termasuk penyiksaan, pengakuan dengan paksaan, pengadilan dan penahanan yang tidak mengikuti kaidah-kaidah hukum yang adil.

Ishak Daud, panglima militer Gerakan Aceh Merdeka (GAM), dan 14 pemberontak lainnya terbunuh dalam sebuah kontak tembak di Aceh Timur, 7 September 2004.  Daud, mantan komandan GAM wilayah Aceh Timur, termasuk salah satu pemberontak yang diburu pemerintah Indonesia setelah menculik dua wartawan televisi Indonesia dan dua isteri perwira TNI Angkatan Udara tahun lalu.

Tempo melaporkan 6 September lalu bahwa TNI sedang menyelidiki kemungkinan terlibatnya gubernur Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) Abdullah Puteh dalam organisasi separatis Gerakan Aceh Merdeka (GAM).  Tuduhan terakhir yang juga mesti dibuktikan di pengadilan adalah kasus korupsi di dalam pemerintahan gubernur Abdullah Puteh.

Informasi tambahan mengenai Aceh:

Siapa Peduli Kesehatan Anak-anak Aceh? (Republika)

Aceh dan Peran Kemerdekaan RI (Arifin, Bustanil)

Sulawesi

Berkaitan dengan kasus pencemaran lingkungan yang dikenal dengan kasus Teluk Buyat, sebuah panel pemerintah Indonesia mengumumkan pada 31 Agustus lalu bahwa perusahaan tambang Newmont dengan illegal membuang limbah yang mengandung bahan merkuri (air raksa) dan racun arsen ke lautan dan gagal mendapatkan izin untuk itu dari Kementerian Lingkungan Hidup meskipun sudah mengusahakannya sejak 1996.  Penemuan ini diumumkan seminggu setelah lembaga bantuan hukum setempat mengajukan tuntutan di Pengadilan Jakarta Selatan atas nama tiga penduduk desa di kawasan Buyat yang menderita sakit akibat pencemaran tersebut.  Newmont berkilah bahwa pihaknya sudah menerapkan prosedur pembuangan limbah secara ketat dan balik menuduh penambang liar lokal sebagai sumber pencemaran tersebut.  Beberapa manajer dan direktur Newmont masih dalam tahanan polisi dan Menteri Lingkungan Hidup Nabiel Makarim mengisyaratkan pimpinan usaha tambang asal Amerika Serikat ini akan menghadapi tuduhan tindak pidana kriminal.

Informasi tambahan mengenai Sulawesi:

Menyikapi Polemik Kasus Buyat (Fauzi, Akhmad)

Kasus Buyat, Bencana Lingkungan Buatan Manusia (Sibuea, Posman)

Investasi dan Lingkungan (Silalahi, Pande Radja)

Merkuri dan Arsen di Teluk Buyat (Bramono, Sandhi Eko)

Papua

Awal Juli lalu, National Security Archive, sebuah lembaga non-pemerintah independent  yang berpusat di Amerika Serikat, menerbitkan arsip yang diperolehnya berdasarkan US Freedom of Information Act yang menjelaskan secara terperinci mengenai dukungan AS terhadap Indonesia untuk menguasai Irian Jaya pada 1969.  Sementara itu, usulan untuk membagi Papua menjadi tiga propinsi, sebuah usul yang menghebohkan, masih belum bisa diputuskan oleh Mahkamah Konstitusi.

Agustus lalu, seorang pemimpin Organisasi Papua Merdeka (OPM) dijatuhi hukuman 10 tahun dengan tuduhan menganjurkan pemberontakan terhadap negara. (Radio Australia)

Kepolisian RI telah membentuk tim yang beranggotakan 25 orang untuk menindaklanjuti temuan dari tim penyelidik gabungan polisi dan U.S. Federal Bureau of Investigation (FBI) dalam kasus penembakan Agustus 2002 di Timika, dekat tambang Freeport, demikian menurut laporan Laksamana pada 9 Oktober lalu.  Dua warga negara AS dan satu warga negara Indonesia tewas dan 11 orang lainnya luka-luka ketika segerombolan orang menembak bis yang mereka tumpangi pada Agustus 2002.

Informasi tambahan mengenai Papua:

Mengapa Asing Ikut Bermain di Papua? (1) (Sinar Harapan)

Kontroversi Kewenangan Gubernur (Prasojo, Eko)

Gairah Merah Putih di Daerah Konflik (Hamzah, Murizal)

Indonesia, Sebuah Bangsa? (Hargens, Boni)

Regulasi tentang Batas Wilayah NKRI (Evanty, Nukila)

20 Senator AS Soroti Irian Jaya (Mangindaan, Robert)





Program on Humanitarian Policy and Conflict Research
Copyright © 2001 by the President and Fellows of Harvard College
HPCR Portals: Central Asia    Indonesia    Nepal    Economics and Conflict
www.preventconflict.org/portal/main/portalhome.php
www.hsph.harvard.edu/hpcr/cpi/cpi.htm

HPCR is not responsible for the content of external publications and Internet sites linked on this portal.